Yang (Tidak) Kamu/Saya/Kita Sadari
Terkadang kita secara tak sadar telah menaruh harapan pada seseorang. Kita tengah menanti kedatangannya, menunggunya pulang. Sementara ia tak pernah dengan sengaja memberi ruang pengharapan. Ia hanya ingin berinteraksi dengan lebih nyaman sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan. Kitalah yang membangun ruang pengharapan itu sendiri. Kita yang senang sekali membayangkan seseorang datang menuju kemari. Lalu, pada suatu waktu kita menuai kecewa dari harapan yang kita pupuk di pekarangan yang salah. Kita menuntut seseorang yang telah membiarkan kita dengan sengaja berharap tanpa lelah. Padahal ia tidak sama sekali berniat membuat kita seperti itu. Bahkan bisa saja ia membantu kita untuk menjaga agar hati tak salah berharap bukan pada Yang Satu. Kita mengutuki perbuatannya yang kita sebut-sebut telah menyakiti. ita melabeli orang tersebut sebagai seorang peluka hati. Bisa tidak, jika mulai detik ini kita mulai untuk bijak pada perasaan yang mungkin tumbuh di dalam hati. ...