(ini dia kisahnya, berdasarkan keterangan di postan instagramku @nadatumblr)
UNFORGETABLE☺️
Selamat datang 2017, tetapi aku punya kisah manis yang akan selalu kukenang diakhir tahun 2016 :)
Kisah itu..
Berawal dari suatu kegiatan yang aku ikuti selama 2 hari 1 malam, KopDar namanya, singkatan dari Kopi Darat, yang berisikan para Aktivis Muda Bandung. Dari nama kegiatannya saja, aku sudah tahu bahwa kegiatan tersebut adalah tempat, forum, atau wadah bagi orang orang yang senang berdiskusi. Ternyata, perkiraanku masih belum akurat, kegiatan tersebut disulap oleh Pembina-Pembina KARISMA ITB menjadi suatu kegiatan yang mengasyikan dan penuh makna, dengan menghadirkan Pembicara-Pembicara hebat dari luar kota Bandung demi menggerakkan kami untuk menjadi agen perubahan. Begitulah, itu alasan mengapa ada kegiatan tersebut, karena tujuan KopDar adalah membentuk kami para generasi muda yang bekerja ikhlas, cepat, dan tangkas untuk masyarakat. Walaupun tidak banyak remaja muda Bandung yang menjadi partisipan, tetapi saya yakin dengan apa yang dikatakan Mas Daluh (Mahasiswa Institut Teknologi Surabaya sekaligus ketua Gerakan Melukis Harapan) bahwa perubahan senantiasa diorganisir oleh orang-orang pilihan :).
Ada 74.000 desa di Indonesia yang harus diberdayakan, harus digerakkan masyarakatnya. Apa kita peduli? Tidak semua, tetapi kami Aktivis Muda Bandung peduli. Para Pembina KARISMA ITB mempunyai misi setelah acara KopDar selesai, yaitu mengerahkan divisi-divisi pemuda yang ingin berkarya untuk membuat masyarakat bergerak, dengan terjun langsung ke sebuah kampung atau desa. Maka diadakanlah kegiatan yang berjudul GERAKAN MEMBANGUN DESA.
Hasil akhirnya, kami mendapatkan misi untuk mempraktekkan apa saja yang kami dapat selama acara KopDar di sebuah Kampung Cibungur, Desa Batujajar Timur. Dalam tempo 4 Minggu lebih kami mulai merancang konsep apa saja yang akan kami lakukan di Kampung tersebut. Disinilah, kami bekerja keras, menyibukkan diri kami demi berlangsungnya kegiatan Gerakan Membangun Desa. Walaupun ada beberapa yang berhenti di pertengahan jalan, kami yang tersisa tetap harus semangat bekerja dan berkorban, karena pengorbanan tidak mungkin berbanding terbalik dengan ketulusan hati. Saya salut kepada kawan-kawan yang sudah kontributif dan berjuang bersama, juga para pembina KARISMA yang turut andil membantu kami.
26-30 Desember 2016, inilah waktu kami untuk beraksi. Dengan program kerja yang kami sepakati, yaitu Donasi Buku ke tempat Taman Baca Masyarakat, melakukan kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak SD sampai SMP, juga pendekatan terhadap masyarakat Kampung Cibungur dengan mengadakan Pentas Acara Maulidan dan Bazaar. 5 hari yang penuh kesan dan pesan. Tidak ada sinyal, tidak masalah bagi kami. Karena disitulah kami mempunyai banyak waktu bersama dan lebih peka terhadap sekeliling kami. Menetap sementara dengan keluarga baru di Kampung, bermain dan belajar dengan Anak-Anak Kampung Cibungur, mengaji bersama di Masjid, menjadikan diri kami lebih mandiri, disiplin, dan saling menyayangi. Kegiatan tersebut berhasil menjadikan diri kami sebagai Remaja Muda Islam yang berkarakter. Entah kapan bisa terulang kembali, tetapi saya dan kawan kawan sangat berterimakasih :).
Begitulah kisahnya..
Jika saja saat itu saya tidak mengikuti acara KopDar, saya tidak akan bisa merasakan indahnya kebersamaan yang saya lalui dan diakhiri dengan kegiatan Gerakan Membangun Desa ini, mungkin saya sama saja seperti remaja muda lainnya yang berselancar di zona nyamannya.
-Nadila Pradana Fahyan (Wakil Ketua Aktivis Muda Bandung
UNFORGETABLE☺️
Selamat datang 2017, tetapi aku punya kisah manis yang akan selalu kukenang diakhir tahun 2016 :)
Kisah itu..
Berawal dari suatu kegiatan yang aku ikuti selama 2 hari 1 malam, KopDar namanya, singkatan dari Kopi Darat, yang berisikan para Aktivis Muda Bandung. Dari nama kegiatannya saja, aku sudah tahu bahwa kegiatan tersebut adalah tempat, forum, atau wadah bagi orang orang yang senang berdiskusi. Ternyata, perkiraanku masih belum akurat, kegiatan tersebut disulap oleh Pembina-Pembina KARISMA ITB menjadi suatu kegiatan yang mengasyikan dan penuh makna, dengan menghadirkan Pembicara-Pembicara hebat dari luar kota Bandung demi menggerakkan kami untuk menjadi agen perubahan. Begitulah, itu alasan mengapa ada kegiatan tersebut, karena tujuan KopDar adalah membentuk kami para generasi muda yang bekerja ikhlas, cepat, dan tangkas untuk masyarakat. Walaupun tidak banyak remaja muda Bandung yang menjadi partisipan, tetapi saya yakin dengan apa yang dikatakan Mas Daluh (Mahasiswa Institut Teknologi Surabaya sekaligus ketua Gerakan Melukis Harapan) bahwa perubahan senantiasa diorganisir oleh orang-orang pilihan :).
Ada 74.000 desa di Indonesia yang harus diberdayakan, harus digerakkan masyarakatnya. Apa kita peduli? Tidak semua, tetapi kami Aktivis Muda Bandung peduli. Para Pembina KARISMA ITB mempunyai misi setelah acara KopDar selesai, yaitu mengerahkan divisi-divisi pemuda yang ingin berkarya untuk membuat masyarakat bergerak, dengan terjun langsung ke sebuah kampung atau desa. Maka diadakanlah kegiatan yang berjudul GERAKAN MEMBANGUN DESA.
Hasil akhirnya, kami mendapatkan misi untuk mempraktekkan apa saja yang kami dapat selama acara KopDar di sebuah Kampung Cibungur, Desa Batujajar Timur. Dalam tempo 4 Minggu lebih kami mulai merancang konsep apa saja yang akan kami lakukan di Kampung tersebut. Disinilah, kami bekerja keras, menyibukkan diri kami demi berlangsungnya kegiatan Gerakan Membangun Desa. Walaupun ada beberapa yang berhenti di pertengahan jalan, kami yang tersisa tetap harus semangat bekerja dan berkorban, karena pengorbanan tidak mungkin berbanding terbalik dengan ketulusan hati. Saya salut kepada kawan-kawan yang sudah kontributif dan berjuang bersama, juga para pembina KARISMA yang turut andil membantu kami.
26-30 Desember 2016, inilah waktu kami untuk beraksi. Dengan program kerja yang kami sepakati, yaitu Donasi Buku ke tempat Taman Baca Masyarakat, melakukan kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak SD sampai SMP, juga pendekatan terhadap masyarakat Kampung Cibungur dengan mengadakan Pentas Acara Maulidan dan Bazaar. 5 hari yang penuh kesan dan pesan. Tidak ada sinyal, tidak masalah bagi kami. Karena disitulah kami mempunyai banyak waktu bersama dan lebih peka terhadap sekeliling kami. Menetap sementara dengan keluarga baru di Kampung, bermain dan belajar dengan Anak-Anak Kampung Cibungur, mengaji bersama di Masjid, menjadikan diri kami lebih mandiri, disiplin, dan saling menyayangi. Kegiatan tersebut berhasil menjadikan diri kami sebagai Remaja Muda Islam yang berkarakter. Entah kapan bisa terulang kembali, tetapi saya dan kawan kawan sangat berterimakasih :).
Begitulah kisahnya..
Jika saja saat itu saya tidak mengikuti acara KopDar, saya tidak akan bisa merasakan indahnya kebersamaan yang saya lalui dan diakhiri dengan kegiatan Gerakan Membangun Desa ini, mungkin saya sama saja seperti remaja muda lainnya yang berselancar di zona nyamannya.
-Nadila Pradana Fahyan (Wakil Ketua Aktivis Muda Bandung
Komentar
Posting Komentar