Ayah, ibu.💝

    (hasil bincang positif dengan mahasiswi Univ. Andalas)

Salah satu alasan yang membuat cinta orangtua kepada kita terasa begitu murni adalah penerimaan.
Mereka selalu mau kembali menerima kita dalam kondisi apapun. Mau wajah kita pucat karena sakit, badan menggemuk karena kebanyakan makan, rambut rontok karena stres, jerawat dengan senang hati tumbuh di wajah, dan sekusam apapun kondisi fisik kita, mereka tetap menerima kita untuk “pulang”.
Merekalah yang paling besar khawatirnya saat kita sakit. Rela bolos kerja demi mengurus kita. Mau meluangkan waktu diantara waktu waktunya yang sibuk, hanya untuk menemani kita tidur. Tidak takut tenaganya habis karena bolak balik mengantarkan kita ke dokter.
Karenanya, mereka adalah sebaik tempat pulang saat masih di bumi. Dengan mereka, semua tempat adalah rumah. Suara mereka adalah salah satu suara yang selalu kita rindu.
Tanpa mereka perlu berusaha menunjukkan, rasa cinta mereka selalu paling bisa masuk ke hati kita. Tanpa mereka perlu capek capek bilang sayang, kita sudah tau bahwa mereka sungguhan sayang.
Selalu pura pura tidak apa apa ketika kita gagal tes, padahal diam diam dalam shalatnya mereka menangis. Tentu saja bukan karena kecewa kita gagal. Tapi karena sedih melihat wajah kita yang murung dan galau.
Maka nanti, kita kesulitan menerima seseorang masuk kedalam ruang hati kita. Seseorang yang seringkali dilabeli dengan cap teman hidup. Dunia yang terasa semakin maya ini membuat kita bingung mana yang betulan mau meluaskan hatinya untuk menerima kita.
Mana yang tidak pura pura.
Mana yang nanti ternyata akan menghianati dan ada maunya.
Mana yang memaksa kita tumbuh menjadi apa yang dia mau, bukan apa yang Dia mau.
Mana yang perasaannya berubah saat badan kita melar, melahirkan terus tiap bentar.
Mana yang bikin kita makin baik tanpa perlu merendahkan kita.
Mana yang ittaqillaahnya begitu besar.
Semua akan terasa sulit, memilih ditengah manusia yang semakin penuh dengan pencitraan.
Karena kita sejak kecil sekali, sudah terbiasa dengan cinta orangtua kita. Yang terasa tidak pura pura, yang selalu menerima kita pulang.
Semoga Allah menurunkan alfurqaan ke dada kita, alfurqaan yang akan menjadi cahaya pembeda, agar tau, apa yang Dia mau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017's popular films by IMDb posted by Nadila Pradana Fahyan